Wednesday, February 4, 2026
HomeInternasionalEropaBagaimana ancaman perdagangan Trump telah membentuk ulang strategi global Eropa

Bagaimana ancaman perdagangan Trump telah membentuk ulang strategi global Eropa

Jakarta (NSM), Selama puluhan tahun, Uni Eropa bergerak dalam tatanan internasional yang relatif stabil, ditopang hubungan ekonomi dan keamanan yang erat dengan Amerika Serikat. Pola itu membentuk cara Brussel membaca risiko global dan menyusun kebijakan dagang, dengan asumsi bahwa kemitraan transatlantik akan tetap menjadi jangkar utama.

Asumsi tersebut kini semakin sering diuji. Kesediaan Washington menggunakan tarif, jaminan keamanan, dan tekanan diplomatik sebagai alat tawar telah mempertebal pandangan di kalangan pembuat kebijakan Eropa bahwa ketergantungan tunggal membawa kerentanan tersendiri. Bagi banyak pihak di Brussel, kejutan politik tidak lagi dianggap sebagai pengecualian, melainkan bagian dari lanskap yang harus diantisipasi.

Respons Uni Eropa tidak datang dalam bentuk konfrontasi terbuka. Sebaliknya, blok ini bergerak keluar, memperluas jangkauan perjanjian dagang dan memperdalam hubungan dengan mitra di luar orbit tradisionalnya. Dalam setahun terakhir, kesepakatan lama dihidupkan kembali dan perjanjian baru diselesaikan di Asia dan Amerika Latin, sementara pendekatan ke kawasan Indo-Pasifik dan Teluk dipercepat.

Dorongan ini disampaikan secara terbuka dalam forum-forum internal Eropa, dengan penekanan bahwa fondasi kemakmuran lama tidak bisa lagi dianggap pasti. Nada yang muncul bukan retorika pemutusan hubungan, melainkan ajakan untuk bertindak lebih mandiri sekaligus tetap terbuka pada dunia.

Langkah konkret terlihat pada penyelesaian perjanjian dagang berskala besar dengan India, kesepakatan perdana dengan Indonesia, serta penandatanganan pakta yang lama tertunda dengan negara-negara Mercosur di Amerika Selatan. Perjanjian terakhir saja membuka peluang terbentuknya kawasan perdagangan bebas yang mencakup lebih dari 700 juta penduduk. Negosiasi dengan mitra di kawasan Teluk, termasuk Uni Emirat Arab, juga terus berlanjut.

Meski ketegangan transatlantik menjadi latar yang tak terpisahkan, pergeseran ini lebih menyerupai penyesuaian arah daripada pemutusan total. Upaya diversifikasi sebenarnya telah dimulai lebih awal, dipengaruhi kekhawatiran atas meningkatnya pengaruh ekonomi China dan rapuhnya rantai pasok global. Namun, ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat mempercepat proses tersebut, menyoroti betapa cepat isu perdagangan dapat terseret ke dalam sengketa politik yang tidak terkait.

Bagi Brussel, menyebar risiko ke berbagai mitra kini dipandang sebagai langkah kehati-hatian dasar. Harapan akan perbaikan hubungan tetap ada, mengingat bobot Amerika Serikat bagi perekonomian Eropa. Pada saat yang sama, tumbuh kesadaran bahwa ruang penyangga semakin menyempit dan pilihan harus diperluas.

Perubahan ini tidak berhenti pada perdagangan. Bidang pertahanan dan energi ikut terseret dalam arus yang sama. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 membuka kelemahan dalam arsitektur keamanan Eropa, sementara kritik lama mengenai belanja pertahanan menambah urgensi perdebatan internal. Negara-negara anggota kemudian menyepakati peningkatan anggaran, dengan paket pinjaman senilai 150 miliar euro diarahkan ke sistem pertahanan udara dan rudal, drone, siber, serta kecerdasan buatan.

Gagasan tentang otonomi strategis, yang lama didorong oleh beberapa negara anggota, memperoleh tempat lebih luas seiring sinyal bahwa prioritas keamanan Washington bergerak ke wilayah lain. Di sektor energi, pengurangan ketergantungan pada Rusia diikuti peningkatan impor dari Amerika Serikat. Saat ini, lebih dari 14 persen impor minyak Uni Eropa dan sekitar 60 persen gas alam cair berasal dari AS, sebuah solusi jangka pendek yang sekaligus menciptakan ketergantungan baru.

Dalam perumusan kebijakan, keterkaitan antara perdagangan, pertahanan, dan energi semakin sulit dipisahkan. Upaya menjauh dari satu sumber risiko kerap membuka eksposur baru di sisi lain. Di tengah tatanan global yang kian terfragmentasi, Uni Eropa tampaknya memilih bertumpu pada kekuatannya sebagai blok perdagangan terbesar dunia, sambil terus menguji seberapa jauh diversifikasi dapat memberi ruang bernapas.

Advertisement
RELATED ARTICLES
- Advertisement -

Most Popular

- Advertisement -