Jakarta (NSM), Hutan pinus di wilayah timur Spanyol menyimpan rekam jejak iklim yang jauh lebih jujur daripada ingatan manusia. Melalui pola pertumbuhan pohon, para peneliti menemukan bahwa kondisi curah hujan di kawasan Mediterania Barat saat ini berada pada tingkat ketidakstabilan yang belum pernah tercatat setidaknya sejak awal abad ke-16.
Temuan tersebut diperoleh dari analisis cincin pertumbuhan pinus skotlandia dan pinus hitam yang tumbuh di kawasan pegunungan. Pohon-pohon ini hidup di lingkungan yang sangat bergantung pada hujan, menjadikannya arsip alami yang sensitif terhadap perubahan iklim dari tahun ke tahun.
Setiap lapisan kayu yang terbentuk menyimpan informasi. Tahun-tahun basah meninggalkan cincin yang lebih tebal, sementara periode kering tercermin dari lapisan sempit dan rapat. Dengan membaca pola tersebut secara berurutan, para ilmuwan berhasil menyusun ulang sejarah curah hujan selama lebih dari lima abad.
Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan hal baru bagi kawasan Mediterania. Namun, sejak pertengahan 1970-an, pola yang muncul berbeda dari sebelumnya. Fluktuasi antara kondisi sangat kering dan hujan ekstrem terjadi lebih sering, lebih cepat, dan lebih tajam dibandingkan periode mana pun dalam rentang waktu yang dianalisis.
Pada masa lalu, siklus iklim cenderung berlangsung perlahan, memberi ruang bagi masyarakat agraris untuk menyesuaikan diri. Kini, jeda antara kekeringan panjang dan hujan lebat menyempit drastis. Kondisi ini menciptakan tekanan berlapis, baik bagi ekosistem hutan, pertanian, maupun sistem penyediaan air.
Rekaman pohon juga menunjukkan bahwa hujan deras semakin sering datang dalam bentuk badai yang bergerak lambat. Air terkumpul dalam waktu singkat dan meningkatkan risiko banjir bandang. Di sisi lain, suhu udara yang terus naik mempercepat penguapan, membuat periode kering terasa lebih panjang dan merusak cadangan air tanah.
Menariknya, sinyal dari cincin pohon ini sejalan dengan catatan sejarah lokal. Arsip administratif dan keagamaan dari beberapa abad lalu yang mencatat permohonan hujan atau kekhawatiran akan banjir menunjukkan pola yang konsisten dengan jejak pertumbuhan kayu pada periode yang sama.
Bagi perencana wilayah dan pengelola sumber daya alam, temuan ini menjadi peringatan penting. Banyak sistem air, pertanian, dan kehutanan masih dibangun berdasarkan asumsi stabilitas iklim abad ke-20. Data terbaru menunjukkan bahwa pendekatan tersebut semakin sulit dipertahankan.
Pohon pinus tidak meramalkan cuaca harian. Namun, jejak yang mereka tinggalkan memberi gambaran jangka panjang tentang arah perubahan iklim. Bagi kawasan Mediterania, pesan itu jelas: kondisi yang selama berabad-abad menjadi fondasi kehidupan kini sedang bergeser, menuntut kesiapan yang lebih besar menghadapi banjir dan kekeringan ekstrem yang kian sering terjadi.


