Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ahmad Ali secara terbuka mengakui bahwa partainya masih berada dalam posisi minor di peta politik nasional. Hingga saat ini, PSI belum berhasil lolos sebagai peserta pemilu tetap, setelah dua kali gagal menembus ambang batas yang ditetapkan.

Pengakuan tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja Wilayah PSI Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat di Makassar, Rabu (28/1). Meski bernada reflektif, pernyataan itu justru dijadikan pijakan untuk mendorong ambisi baru di internal partai menjelang Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang akan datang.
PSI tengah menyiapkan Rakernas sebagai forum strategis untuk menentukan arah dan wajah partai ke depan. Dalam proses tersebut, partai berlambang gajah ini mulai membuka ruang pendekatan kepada sejumlah tokoh politik guna memperkuat basis dan jejaring, khususnya di luar Pulau Jawa.
Salah satu nama yang mencuat adalah Rusdi Masse, politikus senior Partai NasDem yang hingga kini belum memastikan langkah politik berikutnya. PSI menilai figur tersebut memiliki pengaruh signifikan di kawasan Sulawesi dan berpotensi memperluas daya jangkau partai di wilayah timur Indonesia. Kehadirannya diyakini dapat mengubah keseimbangan kekuatan politik PSI di daerah.
Optimisme tersebut turut dikaitkan dengan pengalaman kerja sama politik di masa lalu, yang menjadi dasar keyakinan bahwa Sulawesi dapat berkembang menjadi basis baru PSI. Partai juga tetap menempatkan Kaesang Pangarep sebagai figur sentral yang diharapkan mampu menarik dukungan generasi muda dan kalangan non-elite.
PSI menegaskan narasi keterbukaan sebagai bagian dari identitasnya, dengan menekankan bahwa latar belakang sosial bukan penghalang untuk berkiprah di politik. Pendekatan ini diarahkan untuk membangun partai yang inklusif, terutama bagi anak muda dari daerah.
Di sisi internal, Rakernas mendatang juga akan membahas penyempurnaan sistem kepartaian. PSI mendorong konsep organisasi yang disebut sebagai “Super TBK”, yakni model partai yang tidak dikendalikan oleh satu figur atau kelompok tertentu. Seluruh anggota ditempatkan dalam posisi setara tanpa pembeda antara pendiri, senior, maupun kader baru.
Model tersebut dirancang untuk menciptakan tata kelola partai yang lebih modern, transparan, dan berkelanjutan, sekaligus menghindari dominasi elite sempit dalam pengambilan keputusan strategis.
PSI menyadari posisinya saat ini belum menjadi ancaman bagi partai-partai besar. Namun, refleksi atas kegagalan sebelumnya justru dipandang sebagai modal untuk melakukan pembenahan menyeluruh. Partai menargetkan perubahan signifikan dalam lima tahun ke depan agar dapat tampil sebagai alternatif politik yang relevan pada Pemilu 2029.


