Wednesday, February 4, 2026
HomeBerita Teknologi TerkiniBerita TeknologiALMA Ungkap Fase “Remaja” Planet, Periode Paling Kacau dalam Evolusi Tata Surya

ALMA Ungkap Fase “Remaja” Planet, Periode Paling Kacau dalam Evolusi Tata Surya

Selama bertahun-tahun, para astronom telah mampu merekam tahap awal kelahiran planet—fase ketika objek-objek muda masih terbungkus gas terang di sekeliling bintang induknya. Namun, periode berikutnya yang jauh lebih kacau, saat sistem planet memasuki masa pertumbuhan penuh benturan dan ketidakstabilan, lama luput dari pengamatan langsung.

Kini, celah pemahaman tersebut mulai terisi. Melalui pengamatan menggunakan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA), teleskop radio terbesar di dunia, para ilmuwan berhasil menangkap potret langka fase transisi ini—periode yang kerap disebut sebagai masa “remaja” sistem planet.

Temuan tersebut merupakan bagian dari survei Resolve exoKuiper belt Substructures (ARKS). Dalam proyek ini, para peneliti mempelajari 24 cakram puing berdebu yang mengelilingi bintang-bintang muda. Cakram tersebut merupakan sisa material setelah proses pembentukan planet utama selesai, sekaligus arsip alami dari dinamika awal sebuah sistem keplanetan.

Para ilmuwan menilai hasil observasi ini sebagai penghubung penting dalam memahami evolusi tata surya. Selama ini, kajian astronomi lebih banyak berfokus pada tahap kelahiran planet dan kondisi sistem yang telah stabil. Fase di antaranya—ketika orbit belum mapan dan tabrakan masih sering terjadi—hampir tak pernah terlihat secara jelas.

Masa remaja sistem planet ditandai oleh interaksi keras antar benda langit, mulai dari asteroid hingga planet muda. Dalam konteks tata surya kita, fase ini diyakini mencakup tabrakan besar yang membentuk Bulan serta pergeseran orbit planet raksasa yang kemudian melahirkan struktur Sabuk Kuiper di wilayah luar Neptunus.

Berbeda dengan cakram protoplanet yang terang karena kaya gas, cakram puing yang diamati ALMA jauh lebih redup. Meski demikian, kemampuan interferometri radio ALMA—yang memanfaatkan 66 antena di Gurun Atacama, Chile—memungkinkan peneliti mengungkap detail struktur yang selama ini tersembunyi.

Hasilnya menunjukkan keragaman yang mencolok. Cakram-cakram tersebut tidak hanya berbentuk cincin sederhana, tetapi juga menampilkan sistem multi-cincin, halo luas, hingga gumpalan dan lengkungan material yang tak simetris. Pola-pola ini mengindikasikan pengaruh gravitasi dari planet-planet muda yang masih aktif bermigrasi.

Struktur yang terdistorsi tersebut memperkuat pandangan bahwa fase remaja merupakan periode pergolakan besar. Jejak-jejak ketidakstabilan orbital yang terekam di cakram puing mencerminkan proses serupa yang pernah terjadi di tata surya awal, sebelum akhirnya berkembang menjadi sistem yang relatif stabil seperti saat ini.

Penelitian ini memberikan kerangka baru untuk menafsirkan sejarah awal Bumi dan planet lain. Dunia yang kini tampak tenang ternyata lahir dari rangkaian peristiwa kosmis yang penuh benturan dan ketidakpastian.

Hasil lengkap studi ini dipublikasikan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics pada Selasa (20/1), dan dipandang sebagai tonggak penting dalam upaya memahami bagaimana sistem planet berevolusi dari kekacauan menuju keteraturan.

Advertisement
RELATED ARTICLES
- Advertisement -

Most Popular

- Advertisement -