Wednesday, February 4, 2026
HomeNasionalPeristiwa6 Objek Wisata Alam Tutup Sementara Usai Longsor di Cisarua

6 Objek Wisata Alam Tutup Sementara Usai Longsor di Cisarua

Sejumlah destinasi wisata alam di wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, ditutup sementara menyusul terjadinya bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu. Kebijakan ini diambil sebagai langkah pencegahan guna menghindari risiko lanjutan, sekaligus memastikan keselamatan wisatawan dan pengelola.

Beberapa objek wisata yang terdampak penutupan antara lain Curug Bugbrug, Curug Tilu, Curug Pelangi, Curug Layung, serta Situ Reret. Penutupan tersebut mengikuti standar operasional pengelolaan destinasi wisata alam, terutama yang berada di kawasan aliran sungai dan perbukitan yang rawan bencana saat cuaca ekstrem.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan KBB menjelaskan bahwa penghentian sementara aktivitas wisata diberlakukan hingga kondisi lingkungan dinyatakan benar-benar aman. Tidak ada batas waktu pasti, karena keputusan pembukaan kembali akan sangat bergantung pada hasil pemantauan lapangan dan rekomendasi teknis kebencanaan.

Sejumlah air terjun yang ditutup diketahui berada dalam satu sistem aliran sungai yang sama. Kondisi tersebut membuat tingkat kerawanan menjadi serupa ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi atau pergerakan tanah, sehingga pengelola bersama pemerintah daerah sepakat untuk tidak mengambil risiko dengan tetap membuka kawasan wisata.

Langkah penutupan ini dipandang sebagai bagian dari penerapan manajemen krisis di sektor kepariwisataan. Pemerintah daerah menilai bahwa pariwisata merupakan sektor yang bertumpu pada kepercayaan publik, di mana rasa aman menjadi faktor utama yang menentukan keberlanjutan destinasi.

Dalam konteks yang lebih luas, sektor pariwisata saat ini menghadapi tantangan berlapis. Perubahan iklim yang semakin ekstrem, dinamika lingkungan, hingga ketidakpastian global turut memengaruhi stabilitas industri ini. Meski demikian, pariwisata juga dikenal sebagai sektor yang relatif cepat bangkit, asalkan dikelola dengan prinsip kehati-hatian.

Karena itu, Disparbud KBB mendorong perubahan pendekatan dari pariwisata yang semata mengejar angka kunjungan menuju pengembangan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Keselamatan, ketahanan destinasi, serta kesiapan menghadapi risiko dinilai harus menjadi fondasi utama sebelum promosi dan peningkatan jumlah wisatawan digencarkan.

Selama ini, upaya pengembangan pariwisata kerap lebih menonjolkan aspek pemasaran, sementara mitigasi risiko operasional dan kebencanaan belum selalu menjadi prioritas. Peristiwa longsor di Pasirlangu menjadi pengingat bahwa pengelolaan destinasi wisata alam tidak bisa dilepaskan dari kesiapsiagaan terhadap potensi bencana.

Pemerintah daerah berharap, langkah antisipatif ini tidak hanya melindungi pengunjung dan pelaku wisata, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola pariwisata yang lebih aman dan bertanggung jawab di Kabupaten Bandung Barat.

Advertisement
RELATED ARTICLES
- Advertisement -

Most Popular

- Advertisement -