Jakarta (NIM),
Sejumlah aktivis internasional yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) menyatakan akan meluncurkan armada bantuan kemanusiaan terbesar menuju Jalur Gaza pada akhir Maret 2026. Inisiatif ini disebut sebagai upaya terkoordinasi untuk menembus blokade laut Israel yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Menurut keterangan penyelenggara, flotilla tersebut direncanakan melibatkan sekitar 100 kapal dengan lebih dari 1.000 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari tenaga medis, pendidik, insinyur, hingga penyelidik dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional. Armada dijadwalkan bertolak dari Barcelona, Spanyol, pada 29 Maret.
Selain jalur laut, GSF juga mengonfirmasi rencana pengiriman konvoi darat yang akan berangkat dari kawasan Asia pada periode yang relatif bersamaan. Konvoi ini akan membawa muatan utama berupa bahan pangan dan perlengkapan medis untuk warga Gaza.
Dalam pernyataan resminya, GSF menggambarkan misi tersebut sebagai “respons non-kekerasan yang terkoordinasi” terhadap situasi kemanusiaan di Gaza, yang ditandai oleh pembatasan akses, krisis pangan, serta kerusakan infrastruktur sipil akibat konflik berkepanjangan.
Saif Abukeshek, anggota komite pengarah GSF, mengatakan bahwa misi ini tidak diarahkan pada konfrontasi personal. “Yang kami hadapi bukan individu, melainkan sebuah sistem yang menentukan masa depan bangsa lain,” ujarnya dalam pertemuan persiapan di Johannesburg.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Mandla Mandela, cucu dari tokoh anti-apartheid Afrika Selatan Nelson Mandela. Kehadiran sejumlah figur publik disebut penyelenggara sebagai bentuk dukungan moral terhadap agenda kemanusiaan flotilla tersebut.
Dukungan juga datang dari sejumlah pemimpin negara. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim sebelumnya menyatakan bahwa negaranya akan terlibat langsung dalam flotilla berikutnya. Dalam pernyataan yang disampaikan Januari lalu, Anwar menegaskan komitmen Malaysia untuk terus memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina. Ia menyebut bahwa keadilan tidak dapat terus ditunda bagi terwujudnya Palestina yang merdeka dan bermartabat.
Namun, upaya serupa di masa lalu kerap berujung pada pencegatan. Flotilla GSF sebelumnya yang berlayar pada Agustus lalu dilaporkan berhasil mendekati wilayah Gaza hingga radius sekitar 200 mil laut sebelum akhirnya dihentikan oleh pasukan Israel pada Oktober.
Sekitar 40 kapal dengan 450 aktivis saat itu ditahan oleh otoritas Israel. Sejumlah peserta kemudian melaporkan adanya dugaan perlakuan fisik, pelecehan seksual, serta intimidasi verbal selama masa penahanan. Laporan lain menyebutkan gangguan komunikasi yang dialami armada, seiring aktivitas kapal perang dan drone Israel di sekitar jalur pelayaran.
Upaya menantang blokade laut Gaza bukanlah hal baru. Sejak 2008, berbagai flotilla internasional telah mencoba mencapai wilayah tersebut. Sebagian besar berakhir dengan intersepsi oleh Israel, dan beberapa di antaranya berlangsung dengan kekerasan.
Insiden paling mematikan terjadi pada 2010, ketika pasukan Israel menaiki sebuah flotilla dan menewaskan 10 aktivis serta melukai puluhan lainnya. Israel kemudian menyampaikan permintaan maaf pada 2013, dengan menyebut kejadian tersebut sebagai akibat dari “kesalahan operasional”.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Israel terkait rencana flotilla Global Sumud yang dijadwalkan berangkat pada akhir Maret mendatang.


