Jakarta (NIM), Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menilai hubungan antara Iran dan Amerika Serikat saat ini berada dalam kondisi yang sangat rapuh dan berpotensi memicu eskalasi konflik jika tidak dikelola dengan hati-hati. Penilaian itu disampaikan Lavrov di tengah meningkatnya tekanan diplomatik dan militer di kawasan Timur Tengah.
Dalam wawancara yang disiarkan media pemerintah Rusia, Lavrov menyebut situasi tersebut sebagai “sangat eksplosif”. Ia menegaskan bahwa Moskow tidak menempatkan diri sebagai mediator resmi antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, meskipun Rusia tetap menjaga komunikasi dengan seluruh pihak terkait.
“Kami tidak mengambil peran sebagai penengah. Dalam setiap kontak, kami hanya membahas perkembangan aktual yang terjadi di lapangan,” ujar Lavrov. Ia menambahkan, sebagai mitra strategis Iran, Rusia memantau dinamika kawasan dengan perhatian khusus.
Menurut Lavrov, ruang untuk kesalahan saat ini semakin sempit. Ia mengingatkan bahwa langkah yang tidak diperhitungkan dapat memicu rangkaian krisis baru yang sulit dikendalikan. “Terlalu banyak bom waktu yang bisa meledak akibat keputusan ceroboh,” katanya, merujuk pada meningkatnya ketegangan regional.
Meski demikian, Moskow menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam upaya deeskalasi, terutama jika terdapat kesepakatan yang disepakati bersama oleh pihak-pihak terkait. Rusia, kata Lavrov, siap memfasilitasi implementasi kesepakatan apa pun selama itu didasarkan pada komitmen bersama dan kepatuhan terhadap aturan internasional.
Di sisi lain, wacana diplomasi kembali mencuat setelah muncul laporan mengenai rencana perundingan nuklir antara Washington dan Teheran yang dijadwalkan berlangsung di Oman. Pertemuan tersebut disebut-sebut menjadi upaya terbaru untuk membuka kembali jalur dialog yang sempat terhenti.
Ketegangan sebelumnya meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada akhir Januari mengumumkan pergerakan “armada besar” ke kawasan sekitar Iran. Trump kala itu menyatakan harapannya agar Teheran bersedia kembali ke meja perundingan dan mencapai kesepakatan yang ia sebut adil dan setara, termasuk terkait isu senjata nuklir.
Rilis Dokumen Epstein Picu Perdebatan Baru soal Jaringan Kekuasaan Global
Iran sendiri secara konsisten membantah tuduhan bahwa pihaknya berupaya mengembangkan senjata nuklir. Pemerintah Iran menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai dan berada dalam kerangka hak kedaulatan nasional.
Upaya diplomatik sebelumnya belum membuahkan hasil konkret. Lima putaran perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran sepanjang 2025 berakhir tanpa kesepakatan, seiring meningkatnya ketegangan akibat operasi militer Israel terhadap Iran serta serangan Amerika Serikat ke sejumlah fasilitas nuklir Iran. Kondisi tersebut mempersempit ruang kompromi dan memperberat beban diplomasi kawasan.


