Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa kembali melakukan kunjungan resmi ke Rusia pada Rabu waktu setempat. Lawatan ini menjadi yang kedua sejak ia mengambil alih kekuasaan hampir 14 bulan lalu, sekaligus menandai upaya kedua negara merapikan kembali relasi strategis yang sempat berjarak pasca-perubahan kekuasaan di Damaskus.
Kunjungan tersebut berlangsung di tengah dinamika keamanan yang kembali menguat di Suriah utara dan selatan. Pemerintah Suriah tengah menghadapi gesekan terbuka dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat, sementara di wilayah selatan, aktivitas militer Israel terus menjadi faktor penekan yang sensitif bagi stabilitas kawasan.
Dalam pertemuan di Moskow, Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan apresiasi atas perkembangan situasi di Suriah. Ia menyebut proses pemulihan keutuhan wilayah Suriah menunjukkan kemajuan, sebuah pernyataan yang dibaca sebagai sinyal dukungan politik Moskow terhadap pemerintahan baru di Damaskus.
Perubahan lanskap kekuasaan di Suriah sendiri masih menyisakan bayang-bayang masa lalu. Mantan presiden Bashar al-Assad diketahui meninggalkan Damaskus saat kelompok bersenjata menguasai ibu kota pada Desember 2024. Hingga kini, ia diyakini masih berada di Rusia.
Di lapangan, tekanan terhadap SDF meningkat signifikan. Dalam beberapa hari terakhir, pasukan pemerintah Suriah bergerak cepat memasuki wilayah-wilayah yang sejak 2012 berada di bawah kendali kelompok tersebut. SDF, yang selama bertahun-tahun menjadi ujung tombak perlawanan terhadap kelompok Islamic State (IS), akhirnya menandatangani kesepakatan dengan Damaskus pada 18 Januari lalu. Kesepakatan itu membuka jalan bagi pemulihan bertahap otoritas negara di kawasan timur laut Suriah.
Namun proses tersebut tidak sepenuhnya berlangsung tanpa gesekan. Bentrokan bersenjata masih terjadi di sejumlah titik, mencerminkan rapuhnya transisi keamanan di wilayah yang selama lebih dari satu dekade terfragmentasi oleh konflik dan kepentingan aktor eksternal.
Dalam konteks itu, al-Sharaa menegaskan peran Rusia tetap krusial. Ia menyampaikan kepada Putin bahwa Moskow memiliki kontribusi penting dalam menjaga stabilitas Suriah dan kawasan Timur Tengah secara lebih luas. Pernyataan ini sejalan dengan langkah Rusia yang belakangan menarik sebagian pasukannya dari Bandara Qamishli di Suriah timur laut, sembari mempertahankan basis militer utama di Hmeimim dan fasilitas angkatan laut Tartous di pesisir Mediterania.
Langkah penarikan terbatas tersebut dipahami sebagai sinyal kehati-hatian Rusia agar tidak terseret langsung dalam konflik antara pasukan pemerintah Suriah dan SDF. Meski demikian, pengaruh Moskow di Suriah belum surut. Pemerintahan al-Sharaa justru disebut mendorong keterlibatan Rusia dalam pengaturan keamanan jangka menengah, khususnya di Suriah selatan.
Salah satu wacana yang mengemuka adalah kehadiran polisi militer Rusia di wilayah Quneitra, dekat Dataran Tinggi Golan. Skema ini diproyeksikan sebagai penyangga terhadap aktivitas militer Israel yang kerap menembus wilayah Suriah dan menjadi sumber ketegangan regional.
Di sisi lain, Amerika Serikat terus memainkan peran diplomatik. Washington mendorong tercapainya kesepakatan keamanan antara Suriah dan Israel paling lambat Maret mendatang. Sejumlah sumber yang memahami proses perundingan menyebutkan bahwa pengumuman resmi kesepakatan tersebut bisa dilakukan dalam waktu dekat.
Kendati demikian, satu isu utama masih mengganjal: keberadaan pasukan Israel di Jabal al-Sheikh atau Gunung Hermon. Posisi strategis ini menjadi titik tarik-menarik kepentingan yang belum menemukan titik temu, meski kedua pihak disebut telah mencapai kesepahaman dalam isu-isu lain.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah membahas isu ini secara langsung dengan Presiden al-Sharaa melalui sambungan telepon pada Selasa. Dalam percakapan tersebut, Trump menyampaikan bahwa ia memberikan tenggat waktu satu bulan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk merampungkan kesepakatan keamanan dengan Damaskus.
“Perkembangan signifikan sudah dicapai. Hambatan yang tersisa hanya terkait Gunung Hermon. Di luar itu, kesepakatan sudah terbentuk,” ujar seorang pejabat yang mengetahui pembicaraan tersebut.
Seorang pejabat negara Teluk yang turut memantau proses diplomasi itu membenarkan adanya batas waktu satu bulan yang tengah berjalan. Trump sendiri disebut menekankan pentingnya keutuhan Suriah, dengan menolak skenario fragmentasi wilayah pasca-konflik.
Kunjungan al-Sharaa ke Moskow, dengan demikian, mencerminkan manuver diplomatik berlapis yang tengah dijalankan Damaskus: menata ulang hubungan dengan Rusia, meredam konflik internal dengan SDF, serta menavigasi tekanan Amerika Serikat dan Israel dalam satu kerangka kepentingan nasional Suriah yang masih terus diuji.


