Friday, April 4, 2025
HomeInternasionalTimur Tengah & AfrikaBen-Gvir 'bangga' atas perlakuan tidak manusiawi pada tahanan Palestina.

Ben-Gvir ‘bangga’ atas perlakuan tidak manusiawi pada tahanan Palestina.

Mantan menteri Israel 'bangga' atas gambar perlakuan tidak manusiawi terhadap tahanan Palestina

Views: 0

Mantan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang dikenal sebagai politisi sayap kanan, baru-baru ini membanggakan tindakan kontroversial yang dilakukan terhadap tahanan Palestina di Penjara Ktzi’ot, Gurun Negev. Dalam unggahan di platform X pada Senin lalu, Ben-Gvir menyebut bahwa para tahanan dipaksa berlutut di bawah todongan senjata dan mengecat ulang dinding sel yang sebelumnya dihiasi dengan slogan-slogan seperti “Yerusalem Arab” dan “Kami tidak akan melupakan, kami tidak akan memaafkan, kami tidak akan berlutut.”

Ben-Gvir, yang juga memimpin partai sayap kanan Otzma Yehudit (Kekuatan Yahudi), mengklaim bahwa tindakan ini dilakukan sebagai respons terhadap “prasasti hasutan” yang ditulis oleh tahanan Palestina. Ia bahkan mengunggah video yang menunjukkan momen para tahanan dipaksa mengecat dinding sementara penjaga penjara mengarahkan senjata ke arah mereka. Tindakan ini menuai kritik dari berbagai pihak, terutama karena dianggap sebagai bentuk penghinaan dan kekerasan sistematis terhadap tahanan Palestina.

Blokade Pembebasan Tahanan Meski Hamas Patuh

Meskipun Hamas telah memenuhi kewajibannya dalam kesepakatan gencatan senjata, Israel justru memblokir pembebasan sekitar 620 tahanan Palestina yang seharusnya dibebaskan pada Sabtu lalu. Kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan, yang dimulai pada 19 Januari, terdiri dari tiga tahap dengan durasi masing-masing 42 hari. Namun, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menunda pembicaraan untuk tahap kedua, yang seharusnya dimulai pada 3 Februari.

Fase pertama kesepakatan ini telah menghasilkan pembebasan 29 tahanan Israel (dari 33 yang direncanakan) dan empat jenazah, sebagai ganti 1.755 tahanan Palestina. Namun, tindakan Israel yang memblokir pembebasan tahanan Palestina menimbulkan pertanyaan serius tentang komitmen mereka dalam menjalankan kesepakatan.

Penyiksaan Sistematis dan Penghinaan Psikologis

Laporan dari media Israel, termasuk Yedioth Ahronoth dan Maariv, mengungkapkan bahwa tahanan Palestina sering kali menjadi korban penyiksaan sistematis dan penghinaan psikologis. Pada Sabtu lalu, tahanan yang akan dibebaskan dipaksa mengenakan kemeja putih bertuliskan ayat dari Taurat, yang berbunyi, “Aku mengejar musuhku dan mengalahkan mereka; aku tidak berbalik sampai mereka hancur.” Ayat ini diambil dari Mazmur 18:37 dan dianggap sebagai upaya untuk merendahkan martabat tahanan.

Baca Juga: Korban Tewas Akibat Konflik Israel-Gaza Tembus 48.319 Jiwa

Selain itu, gelang identifikasi tahanan juga dimodifikasi dengan frasa yang menegaskan superioritas Israel, seperti “Orang-orang abadi tidak pernah lupa. Aku mengejar musuh-musuhku dan mengalahkan mereka.” Tindakan ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, tahanan Palestina yang dibebaskan juga dipaksa mengenakan kemeja bergambar Bintang Daud dan slogan-slogan yang merendahkan.

Perlakuan Berbeda dari Hamas

Berbeda dengan perlakuan Israel, Hamas diketahui memberikan perlakuan manusiawi terhadap tahanan Israel. Selama pertukaran tahanan pertama pada November 2023, tahanan Israel yang dibebaskan mengaku menerima perlakuan yang baik, bahkan beberapa di antaranya diberikan hadiah sebelum diserahkan kepada Palang Merah. Perbedaan ini semakin menyoroti ketidakadilan dalam perlakuan terhadap tahanan dari kedua belah pihak.

Dampak Perang dan Tuntutan Internasional

Gencatan senjata Gaza dan kesepakatan pertukaran tahanan memang telah menghentikan sementara perang yang menewaskan hampir 48.350 orang, sebagian besar adalah wanita dan anak-anak. Namun, konflik ini telah meninggalkan Gaza dalam keadaan hancur dan memicu tuntutan internasional terhadap Israel. Pada November lalu, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) bahkan mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Ad

RELATED ARTICLES

2 COMMENTS

Comments are closed.

Ad

- Advertisment -

Most Popular