Oleh Robert Inlakesh*
Kebocoran pesan grup dari pejabat tinggi pemerintahan Donald Trump baru-baru ini mencuat dan mengguncang dunia maya, mengungkapkan bagaimana kebijakan luar negeri AS, terutama terkait Yaman, disusun dengan cara yang cukup kasar dan tidak hati-hati. Kejadian ini memberikan wawasan mendalam mengenai pengambilan keputusan di balik layar pemerintahan yang penuh kontroversi, meskipun juga berfungsi sebagai pengalihan yang menarik perhatian publik.
Pencurian Informasi Melalui Grup Chat
Pemimpin redaksi The Atlantic, Jeffrey Goldberg, menjadi sorotan setelah mempublikasikan salinan informasi yang ia dapatkan dari grup chat Signal yang katanya secara tidak sengaja ditambahkan oleh Penasihat Keamanan Nasional Michael Waltz. Informasi yang dibocorkan menunjukkan betapa longgarnya pengelolaan keamanan informasi oleh pejabat tinggi AS. Goldberg berusaha mempermalukan pemerintahan Trump dan menunjukkan kekacauan di balik pengambilan keputusan strategis yang terjadi di ruang rapat pemerintahan.
Namun, jurnalis investigasi Ryan Grim mengungkapkan bahwa Goldberg sebelumnya telah berkomunikasi dengan Waltz dan bahkan menerima kebocoran serupa, yang semakin mempertegas adanya ketegangan internal dalam pemerintahan Trump. Hal ini menambah lapisan misteri terkait alasan sebenarnya mengapa informasi sensitif seperti ini bocor ke publik.
Serangan AS di Yaman: Kebenaran yang Disembunyikan
Bagian paling mengejutkan dari kebocoran ini adalah bagaimana serangan AS terhadap Yaman, yang telah menelan banyak korban jiwa, dikaitkan dengan kebijakan luar negeri AS yang didorong oleh kepentingan tertentu. Salah satu pernyataan kontroversial dalam pesan grup adalah penggambaran tentang blokade Laut Merah yang dilakukan oleh Ansarallah (Houthi), yang digambarkan oleh Goldberg sebagai ancaman terhadap kapal internasional. Namun, kenyataannya, Ansarallah hanya memblokir kapal yang terkait dengan ‘Israel’ sebagai bagian dari solidaritas terhadap Palestina.
Salah satu kebohongan yang diungkap adalah klaim bahwa Ansarallah melancarkan serangan terhadap kapal internasional, yang ternyata tidak benar. Yang terjadi justru adalah upaya untuk memblokir kapal yang berafiliasi dengan ‘Israel’, yang kemudian dibalas dengan intervensi militer dari AS dan Inggris. Operasi ini, yang dikenal sebagai Operation Prosperity Guardian, berujung pada serangan udara yang menghancurkan Yaman, sementara media arus utama dan pejabat Trump terus mempromosikan narasi bahwa serangan tersebut adalah untuk melindungi perdagangan global dan kepentingan Eropa.
Pemutarbalikan Fakta dan Propaganda
Goldberg, yang dikenal sebagai seorang Zionis, telah mengaburkan fakta bahwa serangan AS di Yaman adalah upaya untuk mendukung kepentingan ‘Israel’. Dengan menyembunyikan fakta bahwa intervensi ini dimotivasi oleh solidaritas terhadap ‘Israel’, laporan ini menambah lapisan kebingungan dan propaganda yang disebarkan untuk membenarkan pembantaian warga sipil Yaman.
Goldberg juga mengungkapkan diskusi di grup chat tentang kemungkinan besar bahwa ‘Israel’ menjadi faktor pendorong serangan ini, yang akhirnya semakin menunjukkan ketidakseriusan pemerintahan Trump dalam mencari penyelesaian damai di kawasan tersebut. Keseriusan Trump dalam menyelesaikan konflik di Timur Tengah memang patut dipertanyakan, terutama dengan terungkapnya informasi ini.
Kesimpulan: Kebocoran yang Menjadi Propaganda
Meskipun kebocoran informasi ini memberikan wawasan penting mengenai bagaimana kebijakan luar negeri AS dijalankan di bawah pemerintahan Trump, hal ini juga memperlihatkan bagaimana informasi tersebut digunakan sebagai alat propaganda untuk menyembunyikan fakta-fakta penting. Fakta bahwa AS terlibat dalam serangan militer di Yaman dengan tujuan mendukung ‘Israel’ adalah bagian dari narasi yang berusaha disembunyikan dari publik.
Ke depannya, kebocoran ini harus dipandang lebih kritis, mengingat dampaknya terhadap kebijakan luar negeri dan cara media utama, serta pejabat pemerintah, mengelola narasi-narasi besar dalam konflik internasional.
*Penulis adalah jurnalis The Palestine Chronicle