Istanbul, Turki — Gelombang protes besar-besaran mengguncang Turki setelah Ekrem Imamoglu, Wali Kota Istanbul dan calon presiden potensial, dipenjara atas tuduhan korupsi yang dianggap politis oleh oposisi. Presiden Recep Tayyip Erdogan menuduh Partai Rakyat Republik (CHP), partai oposisi utama, bertanggung jawab atas kekerasan selama demonstrasi—klaim yang dibantah keras oleh para pengunjuk rasa yang menyebutnya upaya membungkam kritik.
Protes Damai Berubah Ricuh, Erdogan Ancam Pertanggungjawaban
Sejak penahanan Imamoglu pada Rabu lalu, ratusan ribu orang turun ke jalan di Istanbul, Ankara, dan kota-kota lain—unjuk rasa terbesar dalam lebih dari 10 tahun terakhir. Meski awalnya damai, bentrokan mulai terjadi setelah polisi menggunakan gas air mata, peluru karet, dan meriam air untuk membubarkan massa.
Erdogan dalam pidato pasca-rapat kabinet menyebut protes telah berubah menjadi “gerakan kekerasan” dan mengancam akan meminta pertanggungjawaban CHP. “Mereka harus berhenti memprovokasi rakyat. Polisi kami terluka, properti rusak—ini tanggung jawab oposisi,” tegasnya.
Menurut Menteri Dalam Negeri Ali Yerlikaya, 1.133 orang telah ditahan dan 123 polisi cedera dalam lima hari terakhir. Namun, CHP membantah tuduhan kekerasan sistematis, menyebut represi polisi justru memicu eskalasi.
“Penahanan Politis”: Imamoglu Dijebloskan ke Penjara Jelang Pilpres
Imamoglu, yang baru saja memenangi pemilihan pendahuluan CHP dengan 15 juta suara, dijebloskan ke penjara menunggu persidangan. Oposisi menilai ini upaya Erdogan menyingkirkan rival terkuatnya menjelang pemilu.
“Ini jelas pembungkaman demokrasi. Imamoglu dipenjara tanpa bukti kuat,” kata Ozgur Ozel, Ketua CHP, di hadapan ribuan pendukung di Istanbul. Ia menyerukan protes berkelanjutan dan boikot media pro-Erdogan sembari mendesak pembebasan Imamoglu.
Unjuk rasa juga mendapat sorotan internasional. Jerman menyatakan penahanan ini “merusak prospek keanggotaan UE Turki”, sementara Komite Parlemen UE-Turki menunda pertemuan karena situasi yang tidak kondusif.
Dampak Ekonomi: Pasar Turki Anjlok, Investor Panik
Kekacauan politik langsung berdampak pada ekonomi Turki:
- Bursa saham Istanbul anjlok 16,6% pekan lalu—terburuk sejak krisis 2008.
- Lira melemah, memaksa bank sentral intervensi dengan cadangan devisa.
- Analis memprediksi ketidakstabilan berkepanjangan jika krisis tidak segera diatasi.
Erdogan berusaha menenangkan pasar dengan janji “stabilitas keuangan”, tetapi Wolfango Piccoli dari Teneo memperingatkan: “Agenda politik Erdogan merusak ekonomi Turki.”
CHP berencana mengajukan banding atas penahanan Imamoglu dan pembatalan gelarnya oleh Universitas Istanbul—langkah yang dianggap sebagai upaya diskualifikasi politik. Sementara itu, protes terus menyebar, menguji ketahanan pemerintahan Erdogan di tengah tekanan domestik dan internasional.
“Ini bukan hanya tentang Imamoglu, tapi masa depan demokrasi Turki,” seru seorang pengunjuk rasa di Ankara.
[…] Krisis Politik Turki Memanas: Erdogan Tuduh Oposisi Picu Kekerasan […]