Gaza, 23 Maret 2025 – Kementerian Kesehatan Gaza mengonfirmasi bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 telah melampaui 50.021 orang, dengan lebih dari 113.000 luka-luka. Data terbaru menunjukkan peningkatan signifikan dalam 24 jam terakhir, dengan 41 korban jiwa dan 61 luka-luka tiba di rumah sakit, termasuk dua jenazah yang dievakuasi dari reruntuhan.
Statistik yang Terus Bertambah
Menurut laporan resmi di Telegram, korban terus berjatuhan meskipun upaya gencatan senjata sebelumnya. Sejak 18 Maret 2025 saja, tercatat 673 tewas dan 1.233 cedera. Kementerian juga menambahkan 233 korban ke dalam data kumulatif setelah verifikasi oleh komite yudisial yang menangani kasus orang hilang.
Namun, angka sebenarnya bisa lebih tinggi. “Masih banyak mayat tertimbun reruntuhan yang belum bisa dievakuasi,” ungkap pernyataan tersebut. Tim penyelamat dan pertahanan sipil kesulitan menjangkau lokasi akibat pemboman intensif.
Pelanggaran Gencatan Senjata & Serangan Terkini
Israel disebut kembali meningkatkan serangan udara secara brutal sejak 18 Maret, menargetkan permukiman sipil. Aksi ini dinilai sebagai pelanggaran terbesar terhadap kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Qatar, Mesir, dan AS pada Januari lalu.
Konflik yang sudah berlangsung 1,5 tahun ini telah menewaskan lebih dari 162.000 orang (gabungan tewas dan luka-luka), dengan mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Sekitar 14.000 orang masih dinyatakan hilang, diduga terkubur di bawah puing-puing atau dalam penahanan.
Dukungan AS & Tuduhan Genosida
Kementerian Kesehatan Gaza menuding Israel melakukan “pemusnahan sistematis” dengan dukungan penuh Amerika Serikat. Sejumlah organisasi HAM internasional, termasuk Amnesty International dan PBB, telah berulang kali menyoroti dugaan kejahatan perang dan genosida di Gaza.
Dengan terus berlanjutnya serangan, krisis kemanusiaan di Gaza diprediksi semakin parah. Keterbatasan akses bantuan medis, makanan, dan listrik memperburuk kondisi pengungsi. PBB memperingatkan risiko kelaparan massal jika blokade tidak segera dicabut.
“Ini bukan lagi sekadar konflik, tapi pemusnahan sebuah bangsa,” tulis seorang relawan internasional di X (Twitter).