Washington, D.C., Gelombang protes terhadap Elon Musk dan Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) semakin meluas. Gerakan “Tesla Takedown”, yang digagas oleh aktor Hollywood Alex Winter dan akademisi Joan Donovan, kini menyebar ke 90 showroom Tesla di 28 negara bagian. Demonstrasi ini menuntut masyarakat menjual mobil Tesla dan melepas saham perusahaan sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan kontroversial Musk sebagai kepala DOGE.
Aksi Massa & Tuntutan Publik
Para demonstran memadati showroom Tesla dengan spanduk bertuliskan “Klakson jika kamu benci Elon” dan “Jual swasticar-mu”—sebuah sindiran terhadap kepemimpinan Musk. Di Rockville, Maryland, lebih dari 400 orang turun ke jalan, jumlah yang meningkat signifikan sejak aksi pertama digelar.
- Tujuan gerakan: Tekan Musk agar menghentikan pemotongan anggaran federal dan PHK massal.
- Target utama: Kebijakan DOGE yang dinilai merusak layanan publik, termasuk rencana pemecatan 20% pegawai IRS dan penutupan United States Institute of Peace.
“Ini bukan hanya tentang Tesla, tapi tentang masa depan demokrasi kita,” kata Joan Donovan kepada CNN.
Dampak pada Pasar & Respons Musk
Gerakan ini mulai berdampak pada pasar:
- Penjualan mobil Tesla bekas melonjak 3x lipat (dari 0,4% pada Maret 2024 menjadi 1,4% per Maret 2025, data Edmunds).
- Saham Tesla anjlok 48% sejak Desember 2024, ditutup di $248,71 per Jumat lalu.
Musk, yang memiliki 13% saham Tesla, berusaha meredam kepanikan dengan meminta karyawan “tidak menjual saham mereka” lewat siaran langsung di X (Twitter). Namun, protes terus berlanjut.
Kisah di Balik Demonstran
- Karen Metchis (72 tahun), eks-pegawai EPA:
“Aksi ini membuktikan rakyat tidak sendirian melawan kebijakan Trump-Musk.” - Mike Murray, PR professional:
“Inilah semangat Amerika sejati—rakyat bersatu melawan ketidakadilan.” - Glenn Popson, pekerja teknologi:
“Jika pemegang saham terus kabur, Musk akan sadar: warga AS bukan main-main.”