Tuesday, March 25, 2025
HomeInternasionalAmerika-KanadaTrump Tegaskan Tenggat dua Bulan Negosiasi Nuklir Iran

Trump Tegaskan Tenggat dua Bulan Negosiasi Nuklir Iran

Views: 0

Pada 19 Maret 2025, sumber yang dekat dengan Gedung Putih mengungkapkan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah mengirimkan surat kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dengan usulan untuk membuka negosiasi terkait perjanjian nuklir baru. Surat tersebut mencakup tenggat waktu dua bulan bagi Iran untuk mencapai kesepakatan, sesuai dengan keinginan Trump untuk mengamankan lebih banyak kontrol atas program nuklir negara tersebut.

Surat tersebut diserahkan oleh utusan Timur Tengah Trump, Steve Witkoff, kepada Presiden Uni Emirat Arab, Mohamed bin Zayed Al Nahyan, saat berada di Abu Dhabi pada pekan lalu. Uni Emirat Arab kemudian memfasilitasi pengiriman surat itu ke pihak Iran. Dalam suratnya, Trump dengan jelas mengungkapkan niatnya untuk menyelesaikan perselisihan mengenai program nuklir Iran melalui jalur diplomatik dalam waktu dekat. Namun, jika negosiasi tersebut tidak membuahkan hasil, Trump memperingatkan bahwa akan ada alternatif untuk menyelesaikan masalah ini.

Peran Rusia dalam Diskusi Nuklir

Selain itu, Trump juga membahas potensi kesepakatan nuklir dengan Iran dalam sebuah percakapan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Menurut ringkasan percakapan dari Gedung Putih, kedua pemimpin membahas berbagai topik terkait Timur Tengah, termasuk potensi kerja sama untuk mencegah konflik di masa depan. Mereka juga sepakat tentang pentingnya menghentikan proliferasi senjata strategis di kawasan tersebut, dengan fokus khusus pada upaya untuk memastikan bahwa Iran tidak berada dalam posisi yang dapat mengancam keberadaan Israel.

Pilihan Diplomatik vs. Militer

Sebelumnya, Trump mengungkapkan dalam wawancara dengan Fox News bahwa ada dua pendekatan dalam menangani Iran: melalui aksi militer atau dengan mencapai kesepakatan. Meskipun ia menyatakan lebih memilih pendekatan diplomatik, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir. “Saya berharap Iran akan bernegosiasi, karena itu akan jauh lebih baik bagi mereka. Tetapi jika mereka tidak mau, kita harus mengambil tindakan,” ujar Trump.

Tanggapan Iran terhadap Usulan Negosiasi

Meski tekanan dari AS semakin meningkat, respons Iran terhadap tawaran negosiasi ini masih belum jelas. Pemimpin Iran, Ayatollah Khamenei, baru-baru ini menanggapi ajakan untuk bernegosiasi dari negara-negara Barat dengan tegas, menyatakan bahwa tujuan dari ajakan tersebut bukan untuk menyelesaikan masalah, melainkan untuk mendominasi dan memaksakan kehendak negara-negara besar. “Negosiasi yang didorong oleh negara-negara arogan ini bukan untuk menyelesaikan masalah, tetapi untuk mendominasi dan memaksakan kehendak mereka,” ungkap Khamenei dalam pidatonya bulan ini.

Jalan Menuju Ketegangan atau Kesepakatan?

Seiring dengan perkembangan ini, banyak yang bertanya-tanya apakah upaya negosiasi ini akan membuahkan hasil atau justru semakin memperburuk ketegangan antara kedua negara. Pemerintahan Trump sebelumnya pernah menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran yang ditandatangani pada masa pemerintahan Barack Obama dan menerapkan kebijakan “tekanan maksimum” yang semakin mengisolasi Iran di kancah internasional.

Namun, jika negosiasi gagal, kemungkinan adanya aksi militer—baik oleh AS atau Israel—terhadap fasilitas nuklir Iran tetap menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan. Dalam konteks ini, situasi di Timur Tengah terus berkembang dan mengundang perhatian dunia internasional, dengan potensi konflik yang bisa meluas.

Ad

RELATED ARTICLES

Ad

- Advertisment -

Most Popular