Eropa menghadapi tantangan baru di tengah konflik Rusia-Ukraina yang masih berlangsung. Kini, kebijakan ekonomi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memanaskan situasi dengan rencana penerapan tarif baru terhadap barang-barang dari beberapa negara. Kebijakan ini semakin memperumit dinamika global dan mendorong Uni Eropa untuk memperkuat strategi pertahanannya.
Pada Senin (3/2/2025), para pemimpin Uni Eropa berkumpul di Brussels, Belgia, untuk mendiskusikan langkah-langkah menghadapi Rusia dan dampak kebijakan ekonomi AS. Pertemuan ini juga membahas tarif impor yang dikenakan Trump terhadap Kanada, Meksiko, dan China, yang memicu kekhawatiran di kalangan pejabat Uni Eropa bahwa kebijakan serupa bisa segera menyasar negara-negara Eropa.
Dalam pertemuan yang berlangsung di istana kerajaan Brussels, para pemimpin dari 27 negara anggota Uni Eropa juga berdiskusi dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, serta Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dalam dua sesi makan bersama.
Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa, menegaskan bahwa pertemuan ini bukanlah pertemuan puncak resmi, melainkan forum untuk diskusi terbuka tentang kebijakan pertahanan Eropa tanpa mengeluarkan deklarasi atau keputusan konkret.
Fokus Diskusi: Hubungan dengan AS dan Kemandirian Pertahanan
Sesi pertama pertemuan membahas geopolitik dan hubungan dengan Amerika Serikat. Keputusan Trump terkait tarif perdagangan menjadi salah satu topik utama mengingat potensi dampaknya terhadap ekonomi Eropa.
Selain itu, posisi Trump dalam kebijakan pertahanan juga menambah ketegangan. Presiden AS yang baru saja memulai masa jabatan keduanya pada 20 Januari 2025 itu menuntut negara-negara Eropa untuk meningkatkan anggaran pertahanan mereka sendiri dan mengurangi ketergantungan terhadap aliansi NATO yang didukung AS.
Hubungan transatlantik semakin memanas setelah Trump mendesak Denmark untuk menyerahkan Greenland kepada Amerika Serikat. Bahkan, ia tidak menutup kemungkinan menggunakan tekanan ekonomi atau kekuatan militer untuk mewujudkan keinginannya tersebut, yang semakin menimbulkan keresahan di kalangan pemimpin Eropa.
Masa Depan Pertahanan Eropa
Dalam pertemuan ini, para pemimpin UE juga membahas strategi pertahanan jangka panjang. Fokusnya adalah pada peningkatan kapabilitas militer, pendanaan proyek pertahanan, serta upaya mempererat kerja sama melalui inisiatif kolektif.
“Eropa perlu lebih mandiri dalam menjaga keamanannya,” ujar Costa dalam surat yang dikirim kepada para pemimpin Uni Eropa. “Kita harus lebih tangguh, lebih efisien, dan lebih dapat diandalkan dalam peran kita sebagai aktor pertahanan global.”
Beberapa diplomat menyarankan pendekatan kompromi dalam pendanaan, seperti pinjaman bersama dibandingkan hibah untuk proyek-proyek pertahanan. Langkah ini dianggap lebih realistis untuk meningkatkan kemampuan militer tanpa membebani anggaran negara secara langsung.
Peningkatan pengeluaran pertahanan telah menjadi tren di banyak negara Eropa, terutama sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 2022. Peristiwa tersebut menjadi peringatan bagi Uni Eropa tentang urgensi memperkuat pertahanan di perbatasan mereka sendiri.
Dengan berbagai tantangan yang ada, Uni Eropa kini berada di persimpangan jalan untuk menentukan arah kebijakan pertahanan dan ekonomi yang lebih independen di masa mendatang.