Saturday, April 5, 2025
HomeInternasionalAmerika-KanadaMeksiko Balas Kebijakan Tarif Bea Masuk AS

Meksiko Balas Kebijakan Tarif Bea Masuk AS

Views: 0

Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Meksiko kembali memanas setelah Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, mengumumkan penerapan tarif balasan terhadap barang impor dari AS. Langkah ini diambil sebagai respons atas kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang secara sepihak menaikkan tarif sebesar 25% terhadap semua produk yang berasal dari Meksiko.

Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di platform media sosial X, Sheinbaum menegaskan bahwa pemerintahannya lebih mengedepankan dialog ketimbang konfrontasi. Namun, dengan kebijakan proteksionis dari Washington, Meksiko merasa perlu mengambil langkah serupa demi melindungi kepentingan ekonominya.

Meksiko Siapkan Tarif Balasan

Sheinbaum menginstruksikan Kementerian Perekonomian untuk segera menerapkan kebijakan tarif dan non-tarif sebagai bagian dari “rencana B” yang telah disusun sebelumnya. Meski tidak mengungkapkan secara rinci barang apa saja yang akan dikenakan tarif balasan, laporan dari Reuters menyebutkan bahwa pemerintah Meksiko telah menyiapkan daftar produk yang akan dikenakan tarif berkisar antara 5% hingga 20%. Produk-produk tersebut meliputi daging babi, keju, hasil pertanian segar, baja, dan aluminium manufaktur. Sementara itu, industri otomotif—salah satu sektor utama dalam hubungan perdagangan kedua negara—untuk sementara tidak termasuk dalam kebijakan tarif balasan ini.

Menurut data dari Biro Sensus AS, nilai ekspor Amerika Serikat ke Meksiko mencapai lebih dari US$322 miliar pada 2023, sementara Meksiko mengekspor produk senilai lebih dari US$475 miliar ke AS. Meksiko sendiri telah menjadi mitra dagang utama AS, menggantikan posisi China sebagai tujuan ekspor terbesar bagi produk-produk Amerika.

Tuduhan dan Ketegangan Politik

Dalam pernyataan yang sama, Sheinbaum juga membantah tuduhan dari Gedung Putih yang menyebutkan bahwa pemerintah Meksiko memiliki hubungan dengan kartel narkoba. Tuduhan ini sebelumnya digunakan sebagai salah satu alasan oleh pemerintahan Trump untuk memberlakukan tarif tinggi terhadap produk Meksiko. Sheinbaum menegaskan bahwa negaranya telah mengambil langkah serius dalam memerangi perdagangan narkoba, termasuk penyitaan 20 juta dosis fentanil serta penahanan lebih dari 10.000 orang yang terlibat dalam jaringan narkotika.

Trump berdalih bahwa kebijakan tarif terhadap Meksiko, Kanada, dan China dilakukan sebagai bentuk hukuman karena ketiga negara tersebut dianggap gagal mengendalikan arus imigran ilegal serta peredaran obat-obatan terlarang ke AS. Selain mengenakan tarif 25% pada barang dari Meksiko dan Kanada, Trump juga menerapkan bea masuk 10% untuk impor produk energi dari Kanada serta seluruh barang yang berasal dari China.

Kanada Ikut Memberikan Respons

Tidak hanya Meksiko, Kanada pun merespons kebijakan tarif AS dengan menerapkan bea masuk balasan. Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, mengimbau warganya untuk membatasi konsumsi produk asal Amerika dan mengumumkan dua tahap penerapan tarif baru terhadap barang impor AS, yang akan mulai berlaku pada Selasa mendatang.

Trudeau menyatakan bahwa tindakan sepihak Trump dapat merusak hubungan jangka panjang antara sekutu dagang Amerika Utara. Ia juga menegaskan bahwa tuduhan Washington mengenai keterlibatan Kanada dalam perdagangan fentanil dan migrasi ilegal tidak berdasar. “Kurang dari 1% fentanil dan penyeberangan ilegal ke Amerika Serikat berasal dari Kanada,” tegasnya.

Dampak Global dari Kebijakan Tarif AS

Kebijakan proteksionis yang ditempuh oleh Trump memicu ketidakpastian di pasar global. Tarif tinggi terhadap Meksiko, Kanada, dan China berpotensi mengganggu rantai pasokan internasional serta meningkatkan harga barang bagi konsumen Amerika sendiri. Kebijakan ini juga memperburuk hubungan perdagangan antara AS dan mitra-mitra utamanya, yang selama ini menjadi penyedia utama bahan makanan, minyak, kendaraan, kayu, dan barang elektronik bagi Amerika Serikat.

Dengan kebijakan tarif yang dijadwalkan mulai berlaku pada 5 Februari 2025, dunia kini menanti langkah selanjutnya dari masing-masing negara. Apakah perang dagang ini akan semakin meruncing atau akan ada titik temu dalam perundingan mendatang?

Ad

RELATED ARTICLES

Ad

- Advertisment -

Most Popular