Hangzhou, China, DeepSeek, perusahaan rintisan AI asal Tiongkok, baru-baru ini membuat gebrakan besar di dunia teknologi. Mereka mengklaim telah mengembangkan model AI canggih dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan pesaing raksasanya seperti OpenAI dan Google. Namun, di balik euforia ini, muncul banyak pertanyaan tentang kebenaran klaim tersebut.
Menggoyahkan Dominasi Teknologi AS
DeepSeek, yang berbasis di Hangzhou, mengumumkan bahwa mereka berhasil melatih model AI R1 hanya dengan biaya sekitar 5,6 juta dolar AS. Bandingkan dengan OpenAI yang menghabiskan lebih dari 100 juta dolar AS untuk mengembangkan GPT-4. Tak heran jika pengumuman ini membuat banyak pihak terkejut sekaligus skeptis.
Banyak analis yang mempertanyakan bagaimana DeepSeek bisa mencapai efisiensi luar biasa tersebut dengan menggunakan chip Nvidia H800 yang kurang canggih. Jika benar, ini bisa menjadi pukulan telak bagi dominasi teknologi AI dari Silicon Valley, yang selama ini dianggap sebagai pemimpin tak terbantahkan.
Skeptisisme dan Dugaan Konspirasi
Meski klaim DeepSeek terdengar mengesankan, sejumlah pakar AI dan tokoh industri justru mempertanyakan validitasnya. Pedro Domingos, seorang profesor ilmu komputer dari Universitas Washington, mengatakan bahwa komunitas AI pasti akan menyelidiki klaim ini lebih dalam.
Tak hanya itu, Palmer Luckey, pendiri Oculus VR, bahkan menyebut anggaran yang diklaim DeepSeek sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal”. Ia menuding bahwa perusahaan ini didukung oleh dana investasi Tiongkok untuk mengacaukan pasar AI global dan menekan investasi di perusahaan AI Amerika.
Sementara itu, CEO Scale AI, Alexandr Wang, mencurigai bahwa DeepSeek sebenarnya memiliki akses ke chip H100 yang jauh lebih canggih, namun merahasiakannya untuk menghindari sanksi AS. Dugaan ini semakin diperkuat oleh pernyataan bahwa perusahaan tersebut sempat menimbun 10.000 chip Nvidia A100 sebelum pembatasan ekspor diberlakukan.
Realitas di Balik Kehebatan DeepSeek
Terlepas dari berbagai teori dan tudingan, beberapa pakar teknologi menilai bahwa klaim DeepSeek memang bisa masuk akal. Lucas Hansen dari CivAI mengatakan bahwa seiring berjalannya waktu, biaya pelatihan AI memang terus mengalami penurunan.
“GPT-4 selesai dilatih pada akhir 2022. Sejak saat itu, ada banyak peningkatan dalam algoritma dan perangkat keras yang membuat biaya pengembangan AI jauh lebih efisien,” jelas Hansen.
DeepSeek sendiri tampaknya tetap tenang menghadapi skeptisisme yang datang bertubi-tubi. Salah satu kandidat PhD yang pernah bekerja pada model AI mereka, Zihan Wang, menanggapi kritik dengan santai. “Mengkritik itu mudah. Lebih baik mereka mencoba mereproduksi apa yang kami lakukan daripada hanya berbicara di atas kertas,” ujarnya.
Implikasi bagi Dunia Teknologi
Jika klaim DeepSeek benar, ini bisa menjadi titik balik bagi industri AI global. Ini tidak hanya menantang dominasi perusahaan AI AS, tetapi juga membuktikan bahwa inovasi besar bisa muncul dari tempat yang tak terduga. Namun, jika terbukti sebaliknya, maka DeepSeek bisa kehilangan kredibilitasnya di mata dunia.
Di sisi lain, dampak dari kejadian ini sudah terasa di pasar saham. Harga saham Nvidia sempat anjlok hingga 17 persen setelah pengumuman DeepSeek, menghapus hampir 593 miliar dolar AS dari nilai pasarnya. Namun, setelah kepanikan mereda, saham kembali pulih hampir 9 persen keesokan harinya.
Pada akhirnya, apakah DeepSeek benar-benar berhasil melakukan terobosan luar biasa, atau hanya membesar-besarkan pencapaiannya? Dunia AI kini tengah menunggu jawaban.